BENGKULU, ewarta.co - Indonesia ternyata banyak memiliki masyarakat yang sangat produktif dan mempunyai kreatifitas yang tinggi. Siapa sangka, puntung atau limbah rokok di tangan orang-orang kreatif ini bisa disulap menjadi benda yang sangat berguna, seperti salah satunya meja.
Selain bisa dibuat kerajinan tangan, hal ini juga dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengedukasi para perokok, bahwa filter rokok yang mengandung bahan pelastik dan sebagainya sangat berbahaya untuk bumi kita.
Para founder Bank Sampah Provinsi Kepulauan Riau mendapatkan ide untuk memanfaatkan limbah rokok menjadi barang yang berguna dalam keseharian, bekerjasama pengusaha warung kopi dan rumah makan yang ada di Provinsi Kepulauan Riau, khususnya daerah Tanjung Pinang, untuk mengumpulkan puntung rokok para pelanggannya.
Setelah dikumpulkan, kertas pembungkus, sisa tembakau dan filternya dipisahkan masing-masing, kemudian filter rokok tersebut diambil para pengrajin di Bank Sampah untuk dibuat sebuat kerajinan tangan.
Untuk menghasilkan sebuah meja, dibutuhkan 7 ribu batang filter rokok untuk satu botol ukuran 1,5 liter untuk kaki meja, dan dicampur reain untuk bagian atas meja, atau bisa dilapisi dengan kaca.
Beban yang dapat ditampung oleh meja yang dinamai Cigaret Brick ini mampu menahan beban berat minimal 466 kilo gram.
Proses pembuatannya yang pertama mengumpulkan dahulu puntung rokokny, setelah terkumpul dan dirasa cukup, maka akan diolah sesuai ketentuan.
"Kita enggak butuh waktu beberapa tahun untuk mengumpulkan puntung rokoknya, kita mengedukasi perokok, filternya ini kan terbuat dari plastik, bisa menjadi mikro jika tanah telah terkontaminasi dengan ini, apalagi di laut," Ujar Saripudin, salah satu Founder Bank Sampah Kota Tanjung Pinang serta Trainer UGEA.
Meja ini sendiri belum dipasarkan dimanapun, namun sudah banyak yang melirik ingin membeli meja dari limbah rokok ini. Ada juga sejumlah orang ingin membantu untuk mempromosikan kerajinan tangan yang terbuat dari limbah rokok tersebut.
"Kalau kita mau menjualnya itu nanti, ketika barangnya sudah bagus dengan polesan yang baik, jadi harapan kita ya barang-barang yang tidak berguna ini bisa kita jual, tidak kalah dengan furniture-furniture yang ada," Harapnya.
Namun sangat disayangkan, proses pemanfaatan limbah rokok ini, dari awal hingga finishing sama sekali belum didukung oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, maupun Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kepualauan Riau.
Semuanya murni dari Bank Sampah, mereka hanya baru proses pendekatan kepada masyarakat yang merupakan program edukasi Bank Sampah. Tetapi, untuk sampai di Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional (GTTGN) ke-XXI di Bengkulu, mereka mendapat support dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi Kepulauan Riau.
"Harapan kita, Pemerintah mensupport nggak hanya di TTGN, kita pengennya ini terjun ke masyarakat, memang masalah Indonesia secara regional maupun nasional sekarang masalahnya sampah, kita pengen menjadikan Kota Tanjung Pinang Provinsi Kepulauan Riau itu menjadi percontohan,"pungkasnya. (Nay)









