BENGKULU, eWarta.co – Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Fatmawati Soekarno Bengkulu menggelar Dialog Kebangsaan bertema "Geopolitik Global dan Dampaknya terhadap Kedaulatan Indonesia" di Taman Wisata Mangrove Bhadrika, Minggu (21/6/2026). Kegiatan ini mempertemukan pimpinan organisasi mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Bengkulu untuk membahas dinamika geopolitik dunia dan dampaknya terhadap kondisi nasional maupun daerah.
Presiden Mahasiswa Universitas Bengkulu (UNIB), Ghifar, mengatakan dialog tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melahirkan gagasan dan menyusun langkah strategis dalam merespons berbagai persoalan bangsa. Menurutnya, dinamika geopolitik global dan konflik yang terjadi di berbagai negara tidak boleh mengubah hakikat kedaulatan Indonesia yang tetap berada di tangan rakyat.
Ia menegaskan mahasiswa menolak segala bentuk upaya yang memecah belah masyarakat maupun pelabelan terhadap kelompok yang menyampaikan kritik. Menurut Ghifar, suara mahasiswa dan masyarakat sipil lahir dari keresahan terhadap berbagai persoalan yang terjadi, bukan karena kepentingan pihak tertentu.
Ghifar juga menyoroti sejumlah program pemerintah yang dinilai perlu mendapat perhatian serius, seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. Ia berharap pelaksanaan kedua program tersebut di Bengkulu berjalan sesuai aturan, transparan, dan bebas dari penyimpangan yang dapat merugikan masyarakat.
"Kami percaya tujuan pemerintah baik, tetapi mahasiswa tetap memiliki kewajiban untuk mengawasi, mengoreksi, dan mengingatkan ketika ada kebijakan yang tidak berjalan sesuai harapan rakyat," ujarnya.
Presiden Mahasiswa UIN Fatmawati Soekarno Bengkulu, Andika Saputra, mengatakan kegiatan tersebut digelar untuk memperkuat sikap kritis mahasiswa dalam menyikapi berbagai isu nasional. Menurutnya, mahasiswa tidak boleh mudah terpengaruh provokasi, tetapi harus mengedepankan kajian dan analisis terhadap persoalan yang benar-benar berdampak pada masyarakat.
Ia menjelaskan forum tersebut menjadi wadah menyatukan perspektif mahasiswa Bengkulu dalam mengawal berbagai kebijakan pemerintah. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana membangun kesadaran kolektif agar mahasiswa tetap aktif mengawal kepentingan rakyat dan pembangunan daerah.
Presiden Mahasiswa Universitas Hazairin (UNIHAZ), Pajar Pratama Putra, menilai dialog publik tersebut merupakan kegiatan positif yang mampu meningkatkan kesadaran intelektual mahasiswa sebagai agen perubahan. Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk mengkritisi kebijakan dan situasi politik yang terjadi, khususnya di Bengkulu.
Pajar menyoroti pentingnya keterbukaan pemerintah terhadap aspirasi mahasiswa. Ia mengaku beberapa aksi yang dilakukan mahasiswa belum mendapat respons langsung dari pemangku kebijakan sehingga hal tersebut perlu menjadi bahan evaluasi bersama.
Sementara itu, Presiden Mahasiswa Poltekkes Bengkulu, Naufal, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan membangkitkan kepedulian mahasiswa terhadap kondisi bangsa. Menurutnya, mahasiswa tidak boleh bersikap apatis terhadap berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
Naufal menilai perkembangan geopolitik internasional perlu dipahami secara mendalam karena dapat memengaruhi kondisi dalam negeri. Ia juga mengingatkan pentingnya evaluasi terhadap berbagai program pemerintah, termasuk MBG dan Koperasi Desa Merah Putih, agar pelaksanaannya benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ketua Senat Mahasiswa UIN Fatmawati Soekarno Bengkulu, Haikal Fidi Akbar, mengatakan dialog kebangsaan digelar untuk membedah berbagai persoalan yang sedang terjadi di Indonesia. Menurutnya, mahasiswa perlu memahami setiap persoalan secara objektif sebelum menentukan sikap dan gerakan.
Ia menegaskan setiap aksi mahasiswa harus didasarkan pada data, kajian, dan kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, gerakan mahasiswa tetap murni sebagai bentuk kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan.
Dalam kesempatan tersebut, Dosen Politik Islam UIN Fatmawati Soekarno Bengkulu, Ivan Syahputra, menilai gejolak geopolitik yang terjadi saat ini dapat menjadi energi positif bagi mahasiswa. Ia mendorong mahasiswa untuk tetap kritis melalui pendekatan ilmiah, diskusi, dan kajian yang berbasis data.
Menurut Ivan, sikap kritis harus diwujudkan melalui cara-cara yang konstitusional dan tidak melanggar hukum. Ia menegaskan bahwa aksi demonstrasi dan dialog kebangsaan merupakan dua instrumen yang sama pentingnya dalam mengawal kebijakan publik.
"Gerakan di jalanan dan diskusi ilmiah harus berjalan beriringan. Dengan begitu, gerakan mahasiswa tetap terpercaya, berlandaskan data, dan mampu mengawal cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia," tegasnya.
Melalui dialog kebangsaan tersebut, mahasiswa Bengkulu menegaskan komitmennya untuk terus mengawal kebijakan pemerintah, menyampaikan kritik secara konstruktif, serta menjaga peran mahasiswa sebagai kekuatan moral dan kontrol sosial demi terwujudnya pemerintahan yang berpihak kepada rakyat.









