BENGKULU, ewarta.co - Banyak hal yang menarik di Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional (GTTGN) ke-XXI yang digelar di jalan Pariwisata Sport Center Pantai Panjang Kota Bengkulu.
Selain stand-stand dari berbagai daerah di seluruh tanah air yang memamerkan teknologi tepat gunanya, juga terdapat bazar, game dan berbagai kreatifitas.
Salah satunya stand Universitas Budi Luhur Provinsi DKI Jakarta yang memamerkan hasil dari kerajinan tangan yang terbuat dari sampah rumah tangga, seperti sampah bungkus kopi.
Ide pemanfaatan sampah pelastik ini awalnya dicetuskan oleh Tutik Asmawi, seorang founder bank sampah yang dipercayakan Pemerintah DKI Jakarta untuk mengolah sampah rumah tangga dan menjadi mentor di Galeri Bank Sampah Universitas Budi Luhur, Jakarta.
Umi Tutik juga menjadi salah satu relawan Pemberdayaan Masyarakat di Dinas PPAPP Provinsi DKI Jakarta, sub Bidang Pemberdayaan Masyarakat.
Dalam GTTGN ke-XXI ini, Umi Tutik bersama dua rekannya datang dari Jakarta membawa misi meneladani masyarakat untuk tidak lagi membuang sampah, tapi dipilah dan diolah di rumah sendiri.
Adapun sampah rumah tangga yang dimaksud diambil dari sampah bungkus kopi yang ada di kantin Universitas Budi Luhur, telah dikumpulkan selama satu tahun.
Ribuan pelastik bungkus kopi disulap oleh perempuan yang kerap disapa Umi Tutik ini menjadi berbagai kreatifitas, seperti dompet, tas, topi bahkan sampai menjadi karpet.
"Sumber sampah terbanyak itu adalah di dapur rumah kita, nah kalau dikampus itu kan dapurnya dikantin, (sampahnya) kita tempatkan sesuai jenisnya dan kita manfaatkan sesuai fungsinya, nah prosesnya kita ada di rumah kita, di Kampus Budi Luhur DKI Jakarta, diaini kita manfaatkan sesuai fungsinya," Kata Umi Tutik, Senin (23/9).
Hari ini, dipraktekkan oleh Umi Tutik bagaimana cara memanfaatkan sampah tadi untuk diproses, dicuci bersih, digunting atas bawahnya supaya ada lobang tengahnya, dari situ bisa dimanfaatkan semuanya menjadi bahan daur ulang sesuai yang di inginkan.
"Apapun yang kita inginkan, dari kemasan pelastik saset itu bisa kita buat, dengan cara yang macam-macam, disini di stand Bank Sampah Budi Luhur yang ada di stand DPPAPP Provinsi DKI Jakarta ini kita membuka seluas-luasnya, belajar, edukasi daur ulang," Jelasnya.
Dari Jakarta, Umi Tutik telah membawakan alat-alat dan bahan ke pameran GTTGN ke-XXI di Bengkulu hanya untuk berbagi wawasan kepada seluruh pengunjung, baginya walaupun hanya sedikit ilmu yang ia salurkan bagaimana cara pengelolaan sampah yang baik dan benar, supaya saat pengunjung dari berbagai daerah pulang ke kampung halamannya bisa menindaklanjuti untuk memotivasi masyarakat tidak lagi membuang sampah.
Belum lama ini, Umi Tutik mendapat penghargaan dari Lembaga Dikti Nasional, karena telah berhasil membuat tikar daur ulang seluas 100 meter persegi dari 300 ribu lembar sampah pelastik yang dikumpulkan selama satu tahun.
"Alhamdulillah, dua kali Umi mewakili Indonesia untuk pameran Internasional, jadi karya kita ini dari bank sampah Budi Luhur ini sudah ke 34 Negara. Kepedulian anda membuat karya ini sangat indah dan berharga," Pungkasnya. (Nay)









