BENGKULU, eWarta.co – Dentuman Dol yang menggema setiap Muharram bukan sekadar pertunjukan budaya bagi masyarakat Bengkulu. Di balik kemeriahan Festival Tabut yang kini menjadi agenda wisata nasional, tersimpan kisah panjang tentang tragedi kemanusiaan, migrasi budaya, hingga warisan leluhur yang telah bertahan lebih dari tiga abad.
Akar tradisi Tabut bermula dari peristiwa bersejarah di Padang Karbala, Irak, pada tahun 680 Masehi. Saat itu, Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad SAW, gugur dalam pertempuran Karbala yang menjadi salah satu peristiwa paling dikenang dalam sejarah Islam. Peristiwa tersebut kemudian diperingati sebagai hari berkabung oleh sebagian umat Islam di berbagai belahan dunia.
Tradisi itu menempuh perjalanan panjang hingga tiba di Bengkulu pada abad ke-17. Sejarah mencatat, saat Inggris membangun Benteng Marlborough di pesisir Bengkulu, mereka mendatangkan pekerja dan tentara Muslim keturunan India-Bengali. Bersama para pendatang itulah ritual peringatan Karbala diperkenalkan dan kemudian berkembang menjadi tradisi khas Bengkulu yang dikenal dengan nama Tabot.
Tokoh yang diyakini mempelopori pelaksanaan Tabut di Bengkulu adalah Syekh Burhanuddin atau Imam Senggolo pada tahun 1685. Setelah menetap dan berbaur dengan masyarakat setempat, tradisi tersebut diwariskan secara turun-temurun kepada keturunannya yang kini tergabung dalam Keluarga Kerukunan Tabut (KKT) Bengkulu. Hingga saat ini, KKT menjadi pemegang otoritas utama dalam menjaga nilai sakral dan tata cara ritual Tabut .
Secara harfiah, kata Tabot berasal dari bahasa Arab yang berarti peti atau kotak. Namun dalam perkembangannya di Bengkulu, Tabut diwujudkan dalam bentuk bangunan menara bertingkat yang menjulang hingga sekitar 10 meter. Kerangka bangunan dibuat dari bambu, kayu, dan rotan, kemudian dihiasi kertas warna-warni dengan motif ukiran yang rumit. Saat malam tiba, cahaya lampu yang menghiasi menara-menara tersebut menghadirkan pemandangan yang memukau.
Pelaksanaan Tabut berlangsung selama 10 hari, mulai 1 hingga 10 Muharram. Ritual diawali dengan prosesi Mengambil Tanah yang melambangkan asal-usul penciptaan manusia dan penghormatan terhadap tempat gugurnya Imam Husein. Selanjutnya terdapat prosesi Duduk Penja, yakni pencucian benda pusaka berbentuk telapak tangan yang menjadi simbol keluarga Rasulullah SAW.
Memasuki pertengahan rangkaian acara, digelar ritual Meradai yang melibatkan anak-anak untuk mengumpulkan sumbangan sukarela dari masyarakat sebagai simbol kebersamaan dan gotong royong. Kemudian ada Menjara, tradisi saling mengunjungi antar kelompok Tabut sambil memainkan musik Dol yang menjadi identitas budaya Bengkulu.
Puncak kemeriahan berlangsung pada 9 Muharram melalui prosesi Arak Jari-Jari dan Arak Sorban. Ribuan masyarakat memadati jalan-jalan utama Kota Bengkulu untuk menyaksikan iring-iringan replika jari tangan dan sorban putih yang melambangkan keberanian, kesucian, serta pengorbanan Imam Husein. Pada malam harinya, seluruh bangunan Tabot dikumpulkan dalam prosesi Tabut Bersanding yang menjadi salah satu momen paling dinanti wisatawan.
Rangkaian ritual ditutup pada 10 Muharram melalui prosesi Tabut Tebuang. Seluruh Tabot diarak menuju kawasan Karbela dan beberapa bagian non-sakral dibuang sebagai simbol berakhirnya masa berkabung serta kembalinya manusia kepada kesucian dan keikhlasan.
Dalam setiap prosesi, dentuman musik Dol selalu menjadi pengiring utama. Alat musik tradisional berbentuk gendang besar ini terbuat dari batang kayu dan kulit sapi. Irama Dol mampu menghadirkan suasana yang berbeda, mulai dari nuansa haru hingga semangat yang menggelegar, menjadikannya simbol keberanian sekaligus identitas budaya Bengkulu.
Seiring perkembangan zaman, Tabut tidak lagi hanya menjadi ritual keluarga keturunan Tabot. Sejak 1990-an, Pemerintah Provinsi Bengkulu mulai mengemasnya sebagai festival budaya yang terbuka bagi masyarakat luas. Kini Festival Tabut telah menjadi salah satu agenda unggulan pariwisata nasional dan masuk dalam kalender
Kharisma Event Nusantara 2026.
Selain prosesi sakral yang tetap dijaga oleh KKT, festival ini juga diramaikan berbagai kegiatan seni dan budaya, mulai dari parade budaya, lomba tari kreasi Tabut , pameran UMKM, hingga festival kuliner. Perpaduan antara nilai sejarah, spiritualitas, dan kreativitas masyarakat menjadikan Tabut sebagai daya tarik wisata yang unik di pesisir barat Sumatra.
Lebih dari tiga abad setelah pertama kali digelar, Tabut tidak hanya menjadi simbol duka atas peristiwa Karbala. Tradisi ini telah menjelma menjadi identitas budaya Bengkulu, jembatan persatuan lintas budaya, sekaligus penggerak ekonomi masyarakat yang terus hidup dari generasi ke generasi.









