Cerita dari Pantai Malabero, Hidup Bergantung Hasil Laut

 

BENGKULU,eWARTA.co -- Ikan-ikan itu dijemur di belakang rumah di kawasan Pesisir Pantai Malabero. Ikan yang didapat dari hasil laut Bengkulu ini rencananya akan dikeringkan dan dijadikan ikan asin.

Setiap hari, Helli (48) dan suaminya, Hamdani mengolah ikan ini untuk dijual. Penghasilannya bervariasi tergantung jumlah wisatawan yang berkunjung ke objek wisata Pantai Malabero.

Sore itu hembusan angin pantai yang membuatnya mengedipkan mata. Dengkuran ombak kecil yang seolah-olah menemani hari-harinya ketika sedang menunggu pembeli datang.

Banyak kegitan yang dilaukan di sepanjang pesisir mulai dari menjual ikan segar, mejual ikan asin ataupun tawar. Paling tidak hanya sekedar berjualan manisan dengan  seadanya.

Bagi Helli dan Hamdani, laut adalah sumber kehidupan. Menjual hasil tangkapan laut untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Bukan hanya ikan segar yang bisa dijual namun, berbagai tangkapan hasil laut yang diolah menjadi berbagai ikan asin atau tawar.

“Ketika hari biasa pendapatan sekitar Rp 300-500 ribu, sedangkan untuk hari libur dan banyak wistawan yang berkunjung jadi sekitar 1-3 juta rupiah, karena memang masyarakat di sini mayoritasnya menggantungkan hidup dari hasil laut," tutur Helli.

Ikan, cumi, kerang, merupakan hasil laut yang didapatkkan suaminya.

“Karena ketika cuaca sedang  tidak bagus ikan yang didapatkan dan hasil olahan ikan asin maupun keringan ikan tawar menjadi cepat kuning,  sedangan untuk cumi  sendiri tidak diproduksi sendiri, karena keterbatasanya pengelolaan dan hasil tangkapan cumi yang jarang didapatkan," papar Helli.

Pada saat musim panas, Hamdani mendapatkan tangkapan dengan jumlah besar. Pada saat melaut dan ketika dalam beberapa hari di laut dan ketika hasil laut yang diperkirakan sudah bisa mengembalikan modal maka ia akan segera pulang, dengan impian hasil tangkapan laku.

Ikan-ikan yang dikemas dalam box terkadang dihargai sekitar 2juta rupiah. Namun, kondisi ekonomi yang semakin menjerit ini membuat Hamdani tak mampu membagun istana rumahnya dengan megah. Hidup yang serba berkecukupan sudah sangat disyukuri, meskipun anaknya sudah meyelesaikan sekolah. (Septi)