BPS Catat Rekor! Kemiskinan Jember Anjlok ke 8,00 Persen pada 2026, Terendah dalam Satu Dekade

Create: Tue, 20/10/2026 - 08:19
Author: Redaksi

 

JEMBER, ewarta.co – Kabar baik datang dari Kabupaten Jember. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur, persentase penduduk miskin di Jember terus menunjukkan tren penurunan signifikan dan berhasil mencetak rekor terendah dalam satu dekade terakhir pada masa kepemimpinan Bupati Jember Dr. H. Muhammad Fawait, S.E., M.Sc. alias Gus Fawait.

​Berdasarkan laporan resmi BPS Jawa Timur, jumlah warga yang berada di bawah garis kemiskinan di Jember mengalami penurunan secara absolut sebanyak 15.990 jiwa, Selasa (20/10/2026).

​Angka kemiskinan Jember pada 2016 tercatat sebesar 10,97 persen. Angka tersebut sempat berfluktuasi hingga akhirnya pada 2024 berada di angka 9,01 persen, lalu turun menjadi 8,67 persen atau 216.760 jiwa pada 2025. Puncaknya, pada 2026 angka kemiskinan anjlok menjadi 8,00 persen atau 200.770 jiwa dari total populasi penduduk Jember.

​Penurunan ini sekaligus melanjutkan tren pemulihan ekonomi daerah yang terus membaik pasca-lonjakan angka kemiskinan semasa pandemi Covid-19.

​Jika menilik catatan historis BPS Jawa Timur, angka kemiskinan di Jember pada 2020 sempat melonjak hingga 10,09 persen atau 247,99 ribu jiwa, dan mencapai puncaknya pada 2021 di angka 10,41 persen atau 257,09 ribu jiwa.

​Berikut adalah data lengkap tren fluktuatif angka kemiskinan di Jember dalam satu dekade terakhir:

​* 2016: 265,10 ribu jiwa (10,97 persen)

​* 2017: 266,90 ribu jiwa (11,00 persen)

​* 2018: 243,42 ribu jiwa (9,98 persen)

​* 2019: 226,57 ribu jiwa (9,25 persen)

​* 2020: 247,99 ribu jiwa (10,09 persen)

​* 2021: 257,09 ribu jiwa (10,41 persen)

​* 2022: 232,73 ribu jiwa (9,39 persen)

* ​2023: 236,46 ribu jiwa (9,51 persen)

​* 2024: 224,77 ribu jiwa (9,01 persen)

​* 2025: 216,76 ribu jiwa (8,67 persen)

​* 2026: 200,77 ribu jiwa (8,00 persen)

​Capaian persentase 8,00 persen pada 2026 ini menjadi rekor tingkat kemiskinan terendah bagi Kabupaten Jember dalam 10 tahun terakhir. Artinya, angka kemiskinan Jember turun 0,67 poin persentase dibandingkan 2025, serta turun 2,97 poin dibandingkan 2016.

​Menanggapi capaian tersebut, Bupati Jember Muhammad Fawait menegaskan bahwa kemiskinan bukan sekadar angka statistik semata.

​"Kemiskinan bukan sekadar angka. Di baliknya ada persoalan yang dirasakan langsung oleh warga, mulai dari akses kesehatan, pendidikan, pekerjaan, hingga rumah layak," ujar Gus Fawait.

​Menurutnya, penurunan angka kemiskinan ini merupakan perkembangan positif yang patut diapresiasi, namun perjuangan belum selesai. Keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari menurunnya angka, melainkan dari meningkatnya kesejahteraan masyarakat secara nyata.

​"Karena keberhasilan pembangunan bukan sekadar angka yang menurun, tetapi kesejahteraan masyarakat yang terus meningkat," tegasnya.

​Gus Fawait menambahkan, tren penurunan yang makin tajam pada 2026 ini tidak lepas dari berbagai program pro-rakyat yang menyentuh langsung kebutuhan warga. Di antaranya Universal Health Coverage (UHC), layanan Home Care langsung ke rumah warga, Beasiswa Cinta Bergema untuk generasi Jember, hingga program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

​"Melalui program yang menyentuh langsung kebutuhan warga, Pemkab Jember memperkuat tren penurunan kemiskinan dan membuka optimisme baru bagi masyarakat. Jember bergerak ke arah yang benar. Bersama Jember Baru, Jember Maju," pungkasnya.

​Penulis: Hafit