BENGKULU, eWarta.co – Partisipasi Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Bengkulu dalam Festival Tabut 2026 memberikan dampak positif bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Sejak dibuka pada 16 Juni 2026, booth DJPb Bengkulu mampu mencatat rata-rata omzet penjualan lebih dari Rp3 juta per hari.
Kepala Kanwil DJPb Provinsi Bengkulu, M. Irfan Surya Wardhana, mengatakan keikutsertaan DJPb dalam Festival Tabut tidak hanya bertujuan memeriahkan kegiatan budaya tahunan tersebut, tetapi juga menjadi bentuk dukungan nyata terhadap pengembangan ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan UMKM.
“Festival Tabut menjadi momentum yang sangat baik untuk memperkenalkan produk-produk unggulan UMKM Bengkulu kepada masyarakat yang lebih luas. Kami ingin kehadiran DJPb tidak hanya menjalankan fungsi kelembagaan, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi pelaku usaha lokal,” ujar Irfan saat mengunjungi booth UMKM DJPb di kawasan Festival Tabut.
Tingginya minat masyarakat berbanding lurus dengan antusiasme pelaku usaha. Sebanyak 23 UMKM tercatat mendaftar untuk berpartisipasi, terdiri atas dua UMKM binaan dan 21 UMKM mitra. Untuk mengakomodasi seluruh peserta, DJPb menyediakan empat meja pameran yang digunakan secara bergantian melalui sistem rotasi.
Menurut Irfan, pola tersebut dirancang agar lebih banyak pelaku usaha memperoleh kesempatan memasarkan produknya selama festival berlangsung. Selain UMKM binaan yang beroperasi penuh, pelaku usaha lainnya mendapat jadwal bergiliran pada sesi siang maupun malam.
Beragam produk unggulan ditampilkan dalam booth tersebut, mulai dari kuliner khas Bengkulu seperti sirup kalamansi, kue tat, kacang tojin, jahe bubuk, kopi lokal dan aneka makanan kemasan, hingga produk kerajinan seperti batik besurek, rajutan, aksesori manik-manik, kerajinan kawat bulu dan tas berbahan daur ulang.
Selain menjadi sarana pemasaran produk lokal, booth DJPb juga dimanfaatkan sebagai media edukasi kepada masyarakat mengenai tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Konsep tersebut diharapkan dapat mendekatkan layanan dan informasi pemerintah kepada masyarakat melalui pendekatan yang lebih interaktif.
Irfan berharap masyarakat terus memanfaatkan sisa waktu pelaksanaan Festival Tabut dengan mengunjungi dan membeli produk-produk UMKM lokal.
“Ketika masyarakat membeli produk UMKM, mereka tidak hanya berbelanja, tetapi juga ikut mendukung pertumbuhan ekonomi daerah dan keberlangsungan usaha masyarakat Bengkulu,” katanya.
Festival Tabut 2026 sendiri masih berlangsung hingga akhir Juni dan menjadi salah satu agenda budaya terbesar di Bengkulu yang menarik ribuan pengunjung setiap harinya.









