Kotamobagu, eWarta.co — Di balik rimbunnya hutan Bolaang Mongondow, tersimpan sebuah rahasia geologi yang telah tersembunyi selama berabad-abad. Sejak awal 1900-an, para penjelajah Swiss, Paul dan Fritz Sarasin, bersama insinyur pertambangan Belanda, I.J. Koperberg, telah mengamati kilatan potensi emas di wilayah ini saat mereka menelusuri belantara Sulawesi Utara. Namun alam memiliki cara sendiri untuk menyembunyikan kekayaan tersebut melalui lapisan tanah merah tebal dan batuan abu-abu silika yang keras. Fenomena ini dikenal sebagai Blind Deposit atau endapan buta.
Lembah Mongondow bukan sekadar bentang alam biasa. Medannya merupakan zona tektonik purba, di mana cairan hidrotermal pembawa emas membeku di dalam retakan batuan. Iklim tropis yang keras kemudian melapukkan batuan tersebut menjadi lapisan lempung merah yang tebal, menyulitkan penemuan langsung emas yang tersembunyi jauh di bawah permukaan.
Beberapa lokasi Blind Deposit di wilayah ini antara lain:
Onibung, yang menyimpan bukti bisu berupa lesung batu leluhur di puncaknya.
Monsi & Talong, benteng batuan vulkanik dengan sistem stockwork luas di bawah lapisan oksida.
Lolobu, area geologis yang menjadi zona pendidihan (boiling zone) dengan konsentrasi emas tinggi.
Lembah Kotamobagu, yang saat ini menjadi prospektif dan dipercaya menyimpan kelanjutan sistem epithermal yang terputus akibat pergeseran sesar besar.
Meskipun emas permukaan mungkin memberi harapan, emas yang tersembunyi di dalam batuan abu-abu di bawah lapisan kuning jarosit inilah yang dianggap mampu mengubah sejarah pertambangan di wilayah ini. Catatan kolonial Belanda bahkan menyebut: “Tanah ini tidak memberikan emasnya dengan mudah; ia menuntut keberanian untuk menggali lebih dalam dari apa yang terlihat oleh mata.”
Fenomena Blind Deposit di Lembah Mongondow kini menjadi titik fokus bagi penambang dan peneliti, menuntut ketelitian dan keberanian untuk menembus lapisan tanah purba demi menemukan cahaya emas yang telah lama tersembunyi.***









