BENGKULU, eWarta.co – Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, memastikan ketersediaan uang kartal dan stabilitas harga pangan di wilayah Bengkulu terpantau aman selama bulan suci Ramadan hingga Idulfitri 1447 Hijriah.
Melalui program SERAMBI (Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri), BI memproyeksikan peredaran uang di Bengkulu mencapai Rp2 triliun. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan rata-rata bulanan yang biasanya berada di angka Rp700 miliar, atau mencapai 25% dari total peredaran uang tahunan sebesar Rp7,9 triliun.
Wahyu menjelaskan bahwa fluktuasi harga barang pokok saat ini masih dalam batas wajar. Pihaknya terus berkoordinasi untuk menjaga ketersediaan pasokan pangan di pasar. Selain itu, BI juga menyoroti ketersediaan BBM yang kerap menjadi kekhawatiran masyarakat.
"Komunikasi yang baik dan positif sangat penting untuk mengendalikan ekspektasi masyarakat terkait BBM. Sejauh ini, indikator ekonomi menunjukkan tren positif, terlihat dari tiket pesawat yang mulai habis dan kunjungan ke Bengkulu yang terus meningkat," ungkap Wahyu.
Untuk memudahkan masyarakat mendapatkan uang layak edar, BI Bengkulu membuka layanan kas keliling di 10 titik strategis. Hingga saat ini, 7 titik telah terealisasi, ditambah 30 titik layanan di kantor perbankan seluruh Provinsi Bengkulu.
Beberapa jadwal kas keliling terdekat meliputi:
* 10 Maret: Masjid Al-Kahfi
* 11 Maret: Bandara Fatmawati Soekarno
* 12 Maret: Rest Area
* 10 - 11 Maret: Layanan Terpadu di View Tower (sekaligus sosialisasi QRIS dan Pasar Murah).
Hingga saat ini, tercatat sekitar 6.000 orang telah melakukan penukaran dengan total uang terkumpul Rp4 miliar dari target Rp31 miliar. BI memprediksi pada hari akhir nanti jumlah penukar mencapai 12 hingga 13 ribu orang dengan total perputaran uang mencapai Rp67 miliar.
Terobosan paling menarik tahun ini adalah pengelolaan Limbah Racikan Uang Kertas (LURK). Jika sebelumnya limbah uang rusak hanya dibuang ke TPA, kini BI Bengkulu menjalin kerja sama (MoU) dengan PLN Nusantara Power.
Limbah uang kertas tersebut kini dijadikan bahan baku pembangkit listrik karena memiliki nilai kalori yang tinggi, yakni 4.000 kalori, mendekati kualitas batu bara yang berada di angka 5.000 kalori.
"Kami telah mengirimkan 9 ton limbah uang untuk dijadikan bahan bakar. Setiap satu kilogram limbah uang kertas ini mampu menghasilkan listrik sebesar 1 kWh. Ini adalah langkah nyata agar uang yang sudah tidak layak edar tetap memberikan manfaat dan bisa menerangi masyarakat," jelas Wahyu.
Dengan langkah ini, BI Bengkulu tidak hanya menjaga stabilitas ekonomi dan moneter, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan melalui energi terbarukan. (**)









