Besok, 4 Warga Korban TPPO Kamboja Dijadwalkan Tiba di Bengkulu

Create: Mon, 23/02/2026 - 22:22
Author: Redaksi

 

BENGKULU, eWarta.co -- Kabar lega datang bagi keluarga empat warga Bengkulu yang sempat terjebak dalam dugaan praktik Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Kamboja. Jika tidak ada hambatan, keempatnya dijadwalkan mendarat di Bumi Rafflesia pada Selasa (24/2/2026).

​Kepulangan mereka menjadi perhatian serius Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu yang terus mengawal proses pemulangan sejak para korban dipastikan terbang menuju tanah air.

​Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu, Usin Abdisyah Putra Sembiring, menyatakan bahwa pihaknya terus memantau setiap tahapan proses pemulangan agar para korban dapat kembali dengan selamat dan mendapatkan hak-haknya.

​"Kami terus mengikuti perkembangan sejak mereka diterbangkan ke Indonesia. Ini adalah bentuk tanggung jawab kita untuk memastikan warga Bengkulu terlindungi," ujar Usin.

​Setibanya di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta dari Kamboja, para korban akan langsung melanjutkan penerbangan domestik menuju Bengkulu menggunakan maskapai Lion Air. Mereka diperkirakan tiba di Bandara Fatmawati Soekarno pada rentang pukul 10.00 hingga 11.30 WIB.

​Pemerintah Provinsi Bengkulu melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) telah menyiagakan tim untuk proses penjemputan serta pendampingan lanjutan bagi para korban.

​Agenda kepulangan ini tidak hanya berhenti pada penjemputan. Setibanya di Bengkulu, para korban dijadwalkan menjalani pemeriksaan di Polda Bengkulu. Langkah ini diambil guna menggali keterangan sedalam mungkin untuk mengungkap jaringan mafia penyalur tenaga kerja ilegal yang memberangkatkan mereka secara nonprosedural.

​Usin menegaskan bahwa kasus ini harus menjadi momentum bagi aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas dalang di balik pemberangkatan ilegal tersebut.

​"Kami berharap kasus ini diusut sampai ke akarnya. Sekaligus, ini menjadi pengingat keras bagi seluruh masyarakat agar lebih waspada terhadap tawaran kerja ke luar negeri dengan iming-iming menggiurkan namun tidak melalui jalur resmi atau ilegal," tutupnya. (Red)