Benteng Budaya Lawan Gadget, Pengurus RT/RW Perum Kramat 2 Jember Gelar Teater Wayang Orang

Create: Sun, 23/08/2026 - 22:16
Author: Redaksi

 

JEMBER, ewarta.co – Di tengah derasnya gempuran gawai dan budaya populer, warga RW 11 Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Sumbersari, Jember, memilih kembali ke akar budaya. Mereka menghidupkan seni tradisi lewat pertunjukan Teater Wayang Orang bertajuk "Prahara Alengka" dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Minggu (23/8/2026).

​Pagelaran yang berlangsung di kawasan Double Way Perumahan Kramat 2 ini menjadi langkah nyata memperkenalkan wiracarita Ramayana kepada generasi muda, khususnya Generasi Z.

​"Ini upaya kami mempertahankan budaya asli Indonesia. Jangan sampai anak-anak kita hanya mengenal gadget, tetapi asing dengan wayang," tegas drg. Hamid Dwi S., Pimpinan Produksi sekaligus warga Perum Kramat 2.

​Keunikan dari seni pertunjukan ini terletak pada jajaran pemainnya. Bukan diperankan oleh aktor profesional, pementasan ini menggalang kolaborasi linier antara pengurus lingkungan dan warga setempat.

​Ketua RW 11, Bambang Riyanto, didapuk sebagai pemeran tokoh utama (Rahwana). Sementara para Ketua RT 01 hingga RT 05 turut tampil memperkuat jajaran pementasan.

​"Pak RW 11 kami jadikan tokoh utama, sementara jajaran Ketua RT 1 sampai RT 5 menjadi jajarannya. Untuk figuran, kami melibatkan warga Kramat 2 yang siap berkolaborasi," terang Nur Isyanto alias Pak Yanto, penulis naskah yang juga merupakan tenaga pendidik di SDN Darsono 4 Arjasa.

​Pementasan ini melibatkan 11 pemeran utama dan didukung oleh 1 dalang, 1 kru panggung, serta 1 penata pencahayaan.

​Naskah yang digarap oleh Afif Gondrong (sekaligus sutradara) dan Yanto Handoko ini mengangkat lakon Prahara Alengka. Pementasan menyajikan deretan tokoh ikonik seperti Rahwana, Rama (Dika), Shinta (Chika), Laksmana, dan Wibisono. Konsep ditata modern tanpa meninggalkan pakem asli wayang.

​"Kami mengemas karakter Rahwana sebagai simbol penjaga ketulusan. Pesan utamanya adalah jangan menilai seseorang hanya dari tampilan luar. Kebaikan dan keburukan itu seperti hujan dan matahari yang saling melengkapi hingga tercipta warna pelangi," jelas Pak Yanto.

​Selain menjadi wadah pelestarian budaya, momentum ini dimanfaatkan untuk mengedukasi para orang tua terkait pembatasan penggunaan gawai pada anak.

​"Kami mengimbau para orang tua agar membatasi penggunaan gawai pada anak maksimal 2–3 jam sehari. Zaman boleh modern, tetapi akar sejarah dan tradisi adalah identitas bangsa yang wajib kita jaga," imbuh Pak Yanto.

​Pementasan yang mengusung semangat "NUSA: Bangga Menjadi Anak Bangsa" ini terlaksana berkat swadaya warga Perumahan Kramat 2 serta dukungan sponsor lokal.

​Penulis: Hafit