Bebas Mata SePeLe di Balik Layar Pelayanan Publik

 

Bengkulu, eWarta.co -- Setiap pagi, Destompshon menyalakan komputer di ruang kerjanya di Kantor Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu. Layar monitor berukuran 24 inci itu menjadi pusat aktivitasnya selama jam kerja. Dari sanalah ia menginput, memverifikasi, dan mengolah data kependudukan sekitar 21 ribu jiwa yang tersebar di 10 kelurahan.

Sebagai petugas administrasi kependudukan, Destompshon dituntut bekerja cepat, teliti, dan akurat. Kesalahan satu digit saja dapat berdampak panjang bagi pelayanan publik. Namun, di balik tuntutan profesional tersebut, ada risiko kesehatan yang kerap luput dari perhatian: kesehatan mata.

“Dalam sehari bisa lebih dari tujuh jam saya di depan komputer. Kalau sudah siang, mata sering terasa sepet, perih, dan capek,” ujar Destompshon, Kamis (14/1/26).

Awalnya, ia menganggap keluhan itu hal biasa. Kurang tidur, kelelahan, atau efek terlalu lama bekerja. Namun, seiring waktu, keluhan tersebut semakin sering muncul dan mulai mengganggu konsentrasi.

Mengatasi keluhan tersebut, Destompshon kini selalu siap sedia INSTO Dry Eyes di meja kerjanya. Tetes mata itu menjadi solusi praktis yang ia gunakan ketika gejala SePeLe mulai muncul, terutama saat mata terasa sepet, perih, dan lelah akibat menatap layar komputer dalam waktu lama.

Ia mengaku telah menggunakan INSTO Dry Eyes secara rutin sejak enam bulan terakhir. Hasilnya, kenyamanan mata saat bekerja terasa jauh lebih baik. “Sekarang mata tidak cepat lelah, fokus lebih terjaga, dan pekerjaan bisa diselesaikan lebih cepat,” ujarnya.

Perubahan itu berdampak langsung pada kinerja. Proses penginputan dan pengolahan data kependudukan menjadi lebih optimal, antrean pelayanan dapat dipangkas, dan masyarakat menerima layanan lebih cepat. Bahkan, peningkatan kinerja tersebut mendapat apresiasi dari pimpinan di lingkungan Kecamatan Ratu Samban.

“Pelayanan publik itu butuh ketelitian dan konsentrasi tinggi. Kalau mata terganggu, pekerjaan ikut terganggu. Sejak mata lebih nyaman, ritme kerja juga jauh lebih baik,” kata Destompshon.

Aktivitas Destomshon

SePeLe Gejala yang Kerap Diabaikan

Apa yang dialami Destompshon merupakan gejala umum mata kering atau dry eyes. Kondisi ini ditandai dengan rasa SEpet, PErih, dan LElah atau disingkat SePeLe. Gejala tersebut sering dianggap sepele, padahal jika dibiarkan tanpa penanganan dapat berdampak serius.

Mata kering terjadi ketika produksi air mata tidak mencukupi atau kualitasnya tidak optimal. Air mata sejatinya berfungsi melumasi, melindungi, dan menjaga kejernihan penglihatan. Ketika fungsi ini terganggu, mata menjadi rentan iritasi dan tidak nyaman.

Jika dibiarkan, mata kering berisiko menurunkan produktivitas kerja dan bahkan memengaruhi kualitas hidup. Bagi aparatur pelayanan publik seperti Destompshon, kondisi ini dapat memperlambat proses administrasi dan meningkatkan risiko kesalahan kerja.

Digitalisasi pelayanan publik membawa efisiensi, namun juga konsekuensi kesehatan. Pegawai kecamatan, kelurahan, hingga instansi vertikal kini bekerja hampir sepenuhnya berbasis layar.

Menurut para ahli, saat seseorang menatap layar komputer, frekuensi berkedip bisa menurun hingga 60 persen. Akibatnya, air mata lebih cepat menguap dan mata kehilangan kelembapan alaminya. Paparan AC, pencahayaan ruangan yang kurang ideal, dan tekanan kerja memperparah kondisi tersebut.

Tak heran jika mata kering kini menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling banyak dialami pekerja kantoran.

Sayangnya, kesadaran masyarakat terhadap mata kering masih tergolong rendah. Banyak orang baru menyadari masalah ini ketika kondisinya sudah cukup berat.

Merespons situasi tersebut, INSTO yang merupakan merek tetes mata dari Combiphar melalui produk INSTO Dry Eyes meluncurkan kampanye “Bebas Mata SePeLe”. Kampanye ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang mata SEpet, PErih, dan LElah sebagai gejala mata kering.

“Sebagai pemimpin pasar kategori tetes mata yang telah dipercaya lebih dari 50 tahun di Indonesia, INSTO memiliki komitmen besar terhadap kesehatan mata masyarakat Indonesia,” ungkap Weitarsa Hendarto, Direktur PT Combiphar.

Menurutnya, rendahnya literasi masyarakat mengenai mata kering mendorong INSTO untuk aktif mengedukasi pentingnya penanganan sejak dini.

Dari sisi medis, fenomena ini juga menjadi perhatian serius. Dr. Eka Octaviani Budiningtyas, SpM, Dokter Spesialis Mata dari JEC Eye Hospitals and Clinics, menyebut pasien mata kering termasuk yang paling banyak ditemui.

Menurut Dr. Eka, mata kering memiliki jenis dan derajat berbeda sehingga penanganannya harus disesuaikan. Penanganan dapat berupa kompres hangat, lid hygiene, latihan berkedip, penggunaan artificial tears, hingga suplementasi omega-3.

INSTO Dry Eyes sebagai Solusi Praktis

Sebagai solusi, INSTO menghadirkan INSTO Dry Eyes yang diformulasikan dengan Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC). Kandungan ini bekerja sebagai pelumas yang menyerupai air mata alami dan membantu meringankan iritasi akibat kurangnya produksi air mata.

Bahan aktif HPMC bahkan telah diajukan oleh International Council of Ophthalmology (ICO) ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai guideline terapi mata kering.

INSTO Dry Eyes tersedia dalam kemasan 7,5 ml yang praktis dan mudah dibawa, cocok untuk pekerja dengan aktivitas padat seperti Destompshon.

“Kalau mata mulai terasa tidak nyaman, saya pakai tetes mata. Lumayan membantu supaya bisa fokus lagi,” ujarnya.

Melalui kampanye “Bebas Mata SePeLe”, Destomshon menyadari keluhan tersebut adalah gejala mata kering. Menurutnya, kampanye ini penting untuk menyadarkan masyarakat agar tidak menganggap remeh kesehatan mata.

Dengan edukasi yang tepat, kebiasaan kerja yang sehat, dan solusi yang sesuai seperti INSTO Dry Eyes, mata sepet, perih, dan lelah tidak lagi menjadi hambatan. Di era digital, mata adalah aset kerja. Dan seperti pesan kampanye ini, mata SePeLe bukan untuk disepelekan. (Bisri Mustofa)