Atasi Surplus Panen Kalamansi, Unib Dorong UMKM Tingkatkan Produksi dan Nilai Ekonomi

Create: Sun, 09/08/2026 - 11:09
Author: Admin 3

 

Bengkulu Tengah, eWarta.co – Melimpahnya hasil panen jeruk kalamansi di Kabupaten Bengkulu Tengah menjadi peluang besar bagi pengembangan usaha olahan pangan. Namun, tingginya produksi saat musim panen raya juga menghadirkan persoalan ketika kapasitas pengolahan belum mampu menyerap seluruh hasil panen.

Kondisi tersebut mendorong Tim Dosen Pengabdi Universitas Bengkulu (Unib) menghadirkan inovasi teknologi dan diversifikasi produk melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat tahun 2026.

Pada 2 Agustus 2026, tim pengabdian menyerahkan bantuan teknologi tepat guna sekaligus memberikan pelatihan pengolahan produk kepada UMKM Kalamansi Putri Bengkulu.

Program ini tidak hanya berfokus pada penambahan peralatan produksi, tetapi diarahkan untuk memperkuat rantai pengolahan kalamansi mulai dari penyerapan bahan baku, peningkatan kapasitas produksi, diversifikasi produk hingga penguatan kemasan dan pemasaran.

Ketua Tim Pengabdian Unib, Dr. Ir. Rena Misliniyati, S.T., M.T., mengatakan keterbatasan kapasitas pengolahan selama ini menjadi salah satu kendala utama yang dihadapi mitra.

Sebagian proses produksi masih dilakukan menggunakan peralatan manual dengan kapasitas terbatas. Akibatnya, peningkatan produksi buah ketika musim panen raya belum sepenuhnya dapat diimbangi dengan kemampuan pengolahan.

“Kapasitas pengolahan UMKM selama ini hanya mampu menyerap 40 hingga 60 persen hasil panen. Akibatnya, sekitar 40 persen jeruk terbuang percuma saat panen raya,” ujar Rena.

Menurutnya, persoalan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan produksi pertanian harus diikuti dengan penguatan sektor pengolahan. Tanpa dukungan teknologi dan diversifikasi produk, surplus hasil panen justru dapat meningkatkan potensi kerugian dan limbah pascapanen.

Untuk menjawab persoalan tersebut, tim pengabdian menyerahkan satu unit mesin es krim berkapasitas 10 liter dan satu unit planetary mixer kepada pemilik UMKM Kalamansi Putri Bengkulu, Amanda Anisa Saptarani.

Kedua peralatan tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap proses manual sekaligus meningkatkan efisiensi produksi.

Dengan kapasitas pengolahan yang lebih besar, buah kalamansi yang sebelumnya berpotensi tidak terserap saat panen raya dapat diolah menjadi berbagai produk dengan masa simpan dan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Bantuan teknologi tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Direktorat Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Ditjen Kemendiktisaintek) tahun 2026, dengan dukungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bengkulu.

Namun, tim pengabdian menilai bantuan peralatan harus diiringi dengan peningkatan kemampuan sumber daya manusia. Karena itu, mitra juga mendapatkan pelatihan pengolahan produk berupa Pie Kalamansi dan Es Krim Kalamansi.

Kedua produk tersebut dikembangkan sebagai bagian dari strategi diversifikasi sekaligus memperluas kemampuan UMKM dalam menyerap buah kalamansi segar.

Pie Kalamansi diarahkan sebagai produk yang berpotensi dikembangkan menjadi oleh-oleh khas Bengkulu. Sementara es krim menjadi alternatif produk inovatif yang dapat memanfaatkan pasokan kalamansi ketika produksi buah sedang melimpah.

Melalui intervensi teknologi dan diversifikasi produk tersebut, kapasitas produksi mitra ditargetkan meningkat lebih dari 40 persen.

Pengembangan UMKM tidak hanya dilakukan pada sisi produksi. Tim pengabdian juga memberikan perhatian pada aspek identitas produk, kemasan, dan pemasaran.

Tim mahasiswa yang terdiri dari Ghina, Amalia, Ardi, Malzelka, dan Nabila turut mendampingi karyawan UMKM dalam merancang kemasan menggunakan aplikasi Canva.

Konsep “Kalamansi Heritage” kemudian dikembangkan sebagai identitas visual yang menggabungkan karakter lokal Bengkulu dengan tampilan yang lebih modern.

Selain pendampingan desain, tim juga menyerahkan 500 kemasan pie dan 100 cup es krim siap pakai kepada mitra.

“Desain kemasan eksklusif ini disiapkan agar produk lokal mampu menembus standar pasar modern sekaligus merambah pemasaran digital,” kata Rena.

Penguatan kemasan dinilai penting karena daya saing produk tidak hanya ditentukan oleh kualitas dan kapasitas produksi. Identitas visual yang kuat juga dapat membantu produk lokal lebih mudah dikenali dan menarik perhatian konsumen.

Dengan pendekatan tersebut, program pengabdian Unib berupaya membangun rantai usaha yang saling terhubung. Buah kalamansi menjadi bahan baku, teknologi berfungsi meningkatkan kapasitas, inovasi menghasilkan produk bernilai tambah, sedangkan kemasan dan pemasaran digital membuka peluang pasar yang lebih luas.

Dalam pelaksanaan program, Rena didampingi dua dosen anggota, yakni Dr. Febzi Fiona, S.E., M.M., dan Anggri Puspita Sari, S.E., M.Si.

Pemilik UMKM Kalamansi Putri Bengkulu, Amanda Anisa Saptarani, menyambut positif pendampingan yang diberikan, terutama karena mencakup aspek produksi hingga pemasaran.

“Dengan peralatan yang efisien dan kemasan profesional, kami optimistis produk olahan kalamansi ini semakin digemari masyarakat luas,” tutur Amanda.

Program tersebut ditargetkan mampu meningkatkan omzet usaha sekitar 20 hingga 30 persen melalui peningkatan kapasitas produksi, diversifikasi produk, serta perluasan pasar.

Dampaknya diharapkan tidak hanya dirasakan oleh UMKM penerima program. Peningkatan kemampuan pengolahan juga berpotensi memperbesar penyerapan hasil panen petani ketika produksi kalamansi mencapai puncaknya.

Bagi Unib, program tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan kegiatan pengabdian yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Pengetahuan dan teknologi dari perguruan tinggi diterapkan untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi pelaku usaha.

Jeruk kalamansi yang sebelumnya menghadapi persoalan surplus saat panen raya kini memiliki peluang untuk diolah menjadi produk dengan nilai tambah. Dari buah segar menjadi pie dan es krim, dari proses manual menuju produksi yang lebih efisien, serta dari kemasan sederhana menuju produk yang lebih siap bersaing di pasar modern.

Keberhasilan program ini pada akhirnya tidak hanya diukur dari peralatan yang diberikan atau jumlah produk yang dihasilkan. Lebih dari itu, keberlanjutan pemanfaatan teknologi, peningkatan kapasitas usaha, perluasan pasar, penyerapan hasil panen, dan peningkatan pendapatan menjadi indikator penting dari dampak pengabdian tersebut.

Dengan demikian, pengembangan UMKM kalamansi di Bengkulu Tengah diharapkan dapat menjadi contoh bagaimana kolaborasi perguruan tinggi dan pelaku usaha mampu mengubah persoalan surplus komoditas menjadi peluang ekonomi baru bagi masyarakat.