Rejang Lebong, eWARTA.co -- Berdasarkan Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) Kementerian Kesehatan dan Bapenas RI angka Stunting di Kabupaten Rejang Lebong cukup tinggi berkisar 26 persen. Diatas provinsi (22 persen) dan dibawah nasional (27 persen).
Hal itu diungkapkan Kabid Pemerintahan dan Pembangunan Manusia, Bappeda Provinsi Bengkulu, Hisbah Varina, disela kegiatan Rembuk Stunting di Aula BLKM Dinkes Kabupaten Rejang Lebong, Rabu (8/6/2022).
"Target nasional pada 2024 penurunan angka Stunting 14 persen, sehingga diharapkan terdapat penurunan 3 persen tiap tahun. Di Provinsi Bengkulu terbaik dalam penurunan Stunting adalah Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu Selatan dan Kaur," katanya.
Ditambahkan terdapat 2 langkah penanganan, yaitu langkah spesifik diantaranya intervensi masalah gizi (Dinkes, Ketahan Pangan, Dinas Pertanian). Kemudian langkah Sensitif yaitu intervensi penyediaan Air Bersih, lingkungan pemukiman dan perubahan perilaku (Dinas PU-Perkim, Dinas KB dan KUA).
Sedangkan menurut Wabup Rejang Lebong, Hendra Wahyudiansyah, bahwa sebenarnya kasus Stunting di daerahnya hanya berkisar 1,2 persen atau sekitar 400 orang by name by adress. Kejadiannya hampir merata di 15 kecamatan, namun yang menjadi locus pada 6 kecamatan, dominan di Kecamatan Kota Padang.
Dalam penanganan Stuting, telah menyiapkan langkah penurunan diantaranya, melibatkan seluruh OPD dengan 10 OPD yang diprotitaskan. Serta enyiapkan regulasi beserta anggaran.
"Beberapa langkah yang telah dilakukan dalam rangka penurunan Stunting, diawali usia pernikahan harus cukup umur, karena saat ini pernikahan usia dini cukup tinggi, dominan menikah diusia 15 sampai17 tahun. Memperhatikan kesehatan reproduksi, kesehatan umum yang berkaitan dengan asupan gizi," tutupnya.









