Trauma Pasca Operasi, Lansia di Pakusari Takut ke Puskesmas

Create: Mon, 13/07/2026 - 16:50
Author: Redaksi

 

JEMBER, eWarta co – Niti, 75 tahun, warga Dusun Gempal Pakusari, enggan berobat ke puskesmas. Bukan karena jauh. Jarak rumah dan puskesmas hanya satu dusun. Niti trauma, takut tak bisa pulang lagi seperti saat operasi usus buntu 2020.

Niti dioperasi usus buntu saat pandemi Covid-19. Meski sembuh, bekas operasi meninggalkan benjolan yang kian membesar. Keluhan lain: tensi capai 180.

Karena keterbatasan mobilitas dan ekonomi, Niti hanya mengandalkan posyandu lansia dekat rumah. Ia menolak ke puskesmas kecuali dijemput. 

“Kuleh esak tak Endik keluhan plengen, comak tabuk berrek mareh operasi. (Bahasa Madura; Saya tidak pusing, hanya berat bagian perut pasca-operasi,” kata Niti saat dikunjungi tim Puskesmas Pakusari, Senin (13 Juli 2026).

Kepala Puskesmas Pakusari dr. Dian Aliyatul Uliyah menyebut Niti trauma sejak operasi 2020. “Karena itu kami proaktif mendatangi rumah Bu Niti. Memberikan layanan dasar yang jadi haknya,” ujarnya.

Tiga tahun terakhir, benjolan di perut Niti membesar meski tak sakit. Saat hendak dirujuk ke RS, Niti menolak. “Mungkin dia trauma karena perutnya terus membesar, akhirnya kami kunjungi,” jelas dr. Dian.

Hasil _home care_: makan, minum, BAB lancar. Masalah utama justru hipertensi. Keluhan pusing hilang usai rutin berobat. Kini yang tersisa rasa berat saat berjalan karena benjolan.

dr. Dian berharap Niti bersedia diperiksa di puskesmas agar pelayanan optimal. “Peralatan lebih memadai. Kami siap jemput jika beliau bersedia,” tegasnya.

Kasus Niti jadi potret warga dengan keterbatasan mobilitas. Puskesmas Pakusari terus lakukan _home visit_ untuk pastikan kelompok rentan tetap dapat layanan kesehatan layak. (Hafit)